Refleksi Atas Ereksi Penyambutan Hari Yang Sakral Di Negeri Yang Penuh Erosi

Kita perlu duduk berpikir beberapa lama untuk mengenang kembali Rengasdengklok dan para pemuda seperti Sayuti Melik, Soekarni, Wikana dan Chaerul Saleh. Apalagi nama Djiaw Kie Siong, kita harus googling dulu untuk menemukannya. Banyak yang berjasa tapi sedikit yang diingat. Serta Bung Karno & Bung Hatta, yang meyakini kemerdekaan kepada seluruh rakyat Indonesia, menjadikan pembuktian negeri ini bukanlah bangsa yang kacangan dihadapan kolonialis-kolonialis.

Kembali lagi di depan Tugu Proklamasi dan memang begitu adanya selalu berulang. Banyak yang bekerja namun sedikit yang dikenang. Kita harusnya paham adanya dan sudah sadar adanya bahwa kemerdekaan yang kita rayakan setiap tahun itu tidak dirasakan oleh semua orang di negeri ini. Perayaan kemerdekaan di angka 74 ini pun tetap saja diwarnai keterjajahan-keterjajahan baik yang bersifat materil maupun immateril. Lalu bagaimana perjalanan kemerdekaan pasca kolonialisme? Perayaan kemerdekaan hanya sekadar peringatan akan sebuah peristiwa masa lampau tanpa ada relevansinya untuk masa kini. Dan hal itu terus berulang sebanyak 74 kali. Bayangkan sebanyak 74 kali dan masih saja kemerdekaan itu tidak dirasakan semua orang. Dari tahun ke tahun, momentum hari kemerdekaan indonesia selalu dirayakan begitu-begitu saja. Ya, ‘’kemerdekaan’’ tak lagi dimaknai dengan semestinya. Alih-alih melanjutkan agenda revolusi yang belum selesai, kita terlena dengan hal yang sifatnya seremonial. Wacana tentang hari kemerdekaan yang berkembang di masyarakat pun tak jauh dari upacara bendera dan mendengarkan petuah uzur nan membosankan Dari orang-orang politik yang berkamuflase menjadi nasionalis sehari saja guna mendapatkan simpatik, disertai perayaan yang sifatnya seremonial berupa lomba-lomba agustusan belaka.

Sehingga tak heran jika rakyat sering mengasosiasikan hari kemerdekaan tidak lebih dari semarak perlombaan agustusan. Mereka dibuat lupa bahwa tanah airnya sedang dijajah dengan cara lain.
Mereka lupa bahwa bangsanya belum mencapai “Kemerdekaan 100%”. Mereka alpa bahwa seringkali kemerdekaannya untuk bersuara sering diberangus.
Mereka hanya tahu bahwa taktala mendekati tanggal 17 Agustus yang harus mereka persiapkan ialah perlombaan serta meramaikan perumahan komplek & kampung dengan lagu-lagu nasional. Tidak lebih. Hanya itu!’

Seluruh pelosok negeri di buat sengaja menjadi tontonan-tontonan bak sirkus atau pasar malam, yang didalamnya hanya pemenuhan kesenangan dan kebahagiaan jiwa tanpa makna, sementara secara inheren mengenai makna kemerdekaan itu sendiri tidak terpatri dengan sungguh-sungguh.

Semisal di bogor, dimulai dari pawai beragam warna/i sampai lomba-lomba yang dibuat penuh penderitaan ini seolah kemenangan ada didepan mata ini yang notabene dipanitiai oleh anak-anak muda yang secara substansi tidak mengerti akan “arti kemerdekaan” itu sendiri.
Semangat yang timbul dari pelajaran IPS ataupun proposal yang diajukan kepada instansi dengan dalih menjaga stabilitas kemerdekaan.

Ada puluhan yayasan dhuafa & yatim piatu yang perlu ukuran tangan-tangan kemerdekaan sampai gelandangan-gelandangan, pengemis & ode kaum miskin kota yang dirasa sudah terlampau sistematis serta kemiskinan yang telah jatuh tempo dari tahun ke tahun seolah tidak pernah ada daluarsanya, itu luput dari hingar bingar kemerdekaan. Tawuran, kekeresan seksual terhadap anak & perempuan, anak-anak kecil yang harus melanjutkan mimpi-mimpinya dijalanan serta buruh yang harus hidup terpaksa dibawah upah yang mengkhawatirkan, itupun luput dari sorak sorai kemerdekaan.

Kasus korupsi dijajaran pemerintah kota bogor semisal angkahong, PNS kota bogor, KPU, sampai kepada penegakan hukum di bogor yang masih tumpul keatas dan tajam ke bawah, kejahatan – kejahatan korporasi kepada masyarakat tidak mampu (petani digusur) itupun lenyap dari gelora semangat kemerdekaan. Hal ini yang seharusnya dijadikan pandangan serius atas “arti kemerdekaan”. Ini bukan keluhan, hanya cambukan makna yang secara tersurat harus dijadikan penyadaran alam semesta bagi semua insan khususnya pemuda/i bangsa, harus mampu menyadarkan diri dari kesesatan atas makna kemerdekaan.

Perjuangan memang akan senantiasa ada, dan penjajahan akan hadir dengan wajah dan tema yang berbeda. Dari situlah kita pemuda/i bangsa harus lebih memaksimalkan diri dalam memandang sebuah arti kemerdekaan, kelak bangsa ini tidak terjebak kembali dari pandangan-pandangan sesat dari arti dan makna yang sesungguhnya.

Penulis: R. Anggi Triana Ismail

Sembilan Bintang
info@sembilanbintang.co.id